Cara Menghasilkan Ayam Aduan Terbaik : Rekayasa Genetik

Artikel ini sebenarnya ditulis oleh Steven van Breemen yang dituangkan dalam bukunya berjudul ‘Mini Course The Art of Breeding’. Artikel tersebut sesuai dengan pengalamannya dalam beternak merpati pos di Eropa sana. Meskipun hewan yang ia ternakan adalah merpati, tidak menutup kemungkinan bisa diterapkan pada Ayam. Mengingat kedua spesies ini selainsama-sama jenis unggas juga mempunyai banyak kesamaan dalam beberapa hal.



Banyak peternak ayam adauan bertanya : Kenapa hasil ternak saya tidak seragam, dan kualitas mutunya lambat laun terasa semakin menurun?

Taukah anda bahwa kebanyakan peternak ayam aduan di Indonesia khususnya pemula terlalu fanatik dengan trah juara. Juara dikawinkan dengan juara, tapi kenapa anakannya tidak ada yang juara? Ini menimbulkan pertanyaan yang selalu muncul dan menghantui.

Salah satu penyebabnya mungkin karena indukan yang digunakan adalah geno-typenya tidak seragam alias acak-acakan. Maka dari itu diperlukan ternak dengan "rekayasa genetik" untuk menyeragamkan geno-type melalui proses ternak yang lebih terpadu, tersistematis atau terpola dengan baik dan benar. Bukan sekedar ayam juara saja.

Baca juga:
Mencetak Ayam Petarung Unggul
Sebab Telur Ayam Tidak Menetas

Buat sobat penghobi ayam laga khususnya para peternak, ini ada sedikit artikel mengenai teknik-teknik breeding (beternak) dengan cara yang lebih sistematis sehingga bisa juga disebut sebagai ‘Rekayasa Genetika’ yang mumpuni karena sudah terbukti pada  burung merpati.

Tapi mungkin saja diantara sobat-sobat ada yang lebih berpengalaman dan sudah menemukan cara ternak yang lebih baik. Tapi paling tidak  artikel ini bisa menambah wawasan mengenai bagaimana cara beternak yang baik dengan teknik modern sesuai dengan teori genetika para ilmuan. Tidak ada salahnya terus meningkatkan wawasan.

Sebelum membahas lebih dalam tentang teori genetika, ada baiknya kita mengenal terlebih  dahulu beberapa kata yang ada dalam artikel ini agar tidak terjadi salah penafsiran.

1. Inbreed : Perkawinan antara dua individu yg memiliki hubungan darah sangat dekat. Yaitu : Ibu dengan anak, bapak dengan anak dan anak vs anak.

2. Line breed : Perkawinan dua individu yg memiliki hubungan darah tidak terlalu jauh. Contoh : Kakek dengan cucu, paman dengan keponakan, dll.

3. Cross breed : Perkawinan antara 2 individu yang tidak memiliki hubungan darah. Atau minimal hubungan darahnya terlalu jauh.

4. Super breed : Individu yang selalu mampu menurunkan sifat-sifat terbaik pada keturunannya.

5. Super fight : Individu yang diproyeksikan khusus untuk lomba/tarung.

Steven Van Breemen mengembangkan sebuah metode ternak yang disebut : "population genetics".

Metode ini bertujuan untuk membangun suatu populasi yang ada dalam kandang dengan ciri-ciri genetika yang kurang lebih sama (homogen). Misalnya, kalau kita punya 20 ayam di kandang, maka semuanya mempunyai ciri kualitas karakter yang relatif sama (tentu tidak 100 % sama, tapi kalaupun berbeda tidak terlalu jauh). Dari kesamaan karakter ini, kita akan mampu memunculkan hasil ternak yang selalu stabil mutunya. Artinya, kita bisa mendapatkan stok super breeder unggulan yang pada akhirnya mampu memunculkan super fight.

Metode ini merupakan pengembangan dari teori Gregory Mendel yang sudah dimodifikasi. Aplikasinya dengan menggunakan prinsip Cross Breed, Inbreed dan Line breed secara sistematis dan tercatat dengan detail dan konsisten.

Menurut pendapat Steven Van Breemen, bila kita sukses menjalankan metode ini dengan baik, maka kita akan bisa santai-santai saja menikmati hasilnya selama 20 tahun lebih…!!

Selanjutnya teori population genetics hanya cocok diterapkan oleh peternak yang serius, konsisten dan mempunyai visi jauh ke depan, bukan hasil yang cepat. Jadi harus diawali dengan suatu visi tentang kualitas ayam yang nantinya ingin kita hasilkan.

Kalau serius dan ingin menciptakan kualitas ayam yang merata dan bagus, untuk jangka waktu yang panjang, tentu harus dilakukan dengan intensif, butuh waktu, biaya dan tenaga.

Khusus yang ingin serius saja berikut penerapannya:

Tahapan ternak berdasar teori ini:

1. Cross breed I -----> 2. inbreed -----> 3. line breed -----> 4. cross breed II
papaji.forumotion.com


1. Cross breed I

Sebelum mulai ternak, kita harus punya visi ke depan dulu. Visi tentang seperti apa tipe karakter ayam terbaik yang kita ingin hasilkan. Jangan sekedar ikut-ikutan hanya melihat ayam juara yang ada. Ayam juara belum tentu sempurna. Maka visi kita harus jauh lebih bagus dari sekedar juara. Agak idealis kelihatannya, tapi inilah cita-cita yang harus dicapai, bagaimanapun sulitnya.

Untuk cross breed I, carilah pasangan indukan yang sesuai dengan kriteria visi tadi. Memakai ayam juara lebih dianjurkan. Tapi jangan asal pakai. Ayam juara banyak ragam tipe kerjanya. Misalkan ingin punya ayam dengan pukul keras, maka carilah ayam juara yg tipikal kerjanya pukul keras. Kemudian cari juga pasangan betinanya yang keturunan ayam pukul keras.

Hasil dari cross breed 1 ini diharapkan muncul ayam-ayam dengan karakter pukul keras secara merata pada anakannya.

Cross breed 1 ini dianggap tahap yang paling penting untuk pondasi beternak berikutnya. Hasil anakan 75% harus sama rata karakternya, jika tidak berarti ada yang salah. Ini untuk menghindari resiko besar pada tahapan breeding selanjutnya (inbreed), dan menghindari kerugian biaya dan membuang waktu percuma.

Baca juga: 
3 Modal Dasar Ayam Aduan Punya Stamina Bagus  
Ayam Bagus Tak Selalu Menangan

2. Inbreed :
Tujuan inbreed adalah mencetak breeder (modal) yang menyatukan sifat-sifat positif yang dimiliki agar lebih kuat daya turun ke anaknya (dominan).

Hasil inilah yang disebut 'investasi', modal dasar dan aset ternakan kita yang sangat berharga. Anakan hasil inbreed, biasanya tidak memiliki ‘vitalitas’. Yaitu rentan terhadap penyakit, dan fisik/staminanya loyo. Ini tidak menjadi masalah, karena tujuan utamanya adalah untuk modal bredeer, bukan untuk dijadikan fighter. Tapi juga tidak menutup kemungkinan  kalau ternyata hasilnya bisa jadi petarung hebat. Pada akhirnya, kurangnya vitalitas ini dapat diperbaiki melalui tahapan berikutnya.

3. Line breed :
Setelah dapat 'modal' dari inbreed, harus diperkuat lagi dengan line breed. Bila dipasangkan (misalnya) dengan paman yang punya pukul keras, hasilnya sudah bisa dipastikan : ayam dengan karakter pukul sempurna yang sangat dominan. Mungkin inilah yang dimaksud oleh Steven sebagai 'super breed'. Yaitu ayam yang memiliki daya turun breeding yang kuat terhadap anak-anaknya.

4. Cross breed 2 :
Super breed ini boleh dicoba untuk disilang dengan ayam dari trah lain (cross breed ke 2). Tujuannya utk menambah daya vitalitas dan menyempurnakan karakter. Kalau di cross dengan ayam lain yang pukul keras, hasilnya pasti ayam dengan pukulan sempurna. Kalau di cross dengan ayam yang sifatnya agak berbeda (teknik bagus misalnya), maka pukul kerasnya tidak akan hilang. Justru kita berharap ayam dengan tipikal pukul keras dan teknik bagus. Inilah yang dimaksud Mr. Steven sebagai ‘Super fighter’.

Beberapa prinsip yang harus dipahami :

1. Tujuan utama teori population genetics adalah untuk melestarikan karakter/sifat-sifat unggul dari indukan (untuk mudahnya kita pake saja istilah "geno-type") , bukan mempertahankan ciri-ciri fisik (feno-type). Dengan kata lain, tujuan teori ini adlh menciptakan ‘super ‘breeder’.

2. Inbreeding pada prinsipnya adalah upaya menggabungkan sifat-sifat/ karakter 2 individu yang berbeda, baik karakter yang positif maupun negatif. Oleh karena itu rumus inbreeding adalah "terbaik dengan terbaik". Mr. Breemen memakai istilah super breeder vs super breeder. Yang kedua, super breeder harus mempunyai karakteristik yang dapat mendukung "visi" kualitas ayam yang ingin dihasilkan dari ternak kita. Misalnya kalau kita mempunyai visi bahwa hasil ternakan kita harus teknik bagus, maka cari indukan yang teknik bagus. Kalau sekarang belum memiliki atau belum mampu memiliki indukan yang "ideal", menurut saya tidak perlu khawatir karena kualitas indukan dapat diperbaiki melalui cross-breeding.

Mungkin ada yang bertanya, kalau kita sudah punya "super breeder" kenapa tidak itu saja diternak dan tidak perlu repot-repot pakai teori population genetics?

jawab : Kalau tujuan kita ternak hanya jangka pendek memang teori population genetics tidak perlu, tapi seperti dijelaskan sebelumnya, tujuan kita adalah jangka panjang. Perlu diingat bahwa super breeder yang kita punya suatu saat akan mati, mandul, atau sakit. Kalau ini terjadi maka kita kehilangan modal. Itu sebabnya banyak peternak besar yang gagal mempertahankan standard kualitasnya dan terus menurun. Dan banyak ayam-ayam juara yang terputus generasinya.

3. Cross-breeding yang pertama adalah pada saat awal memulai ternak dimana indukan berasal dari dua darah (strain) yang berbeda, sedangkan cross-breeding yang kedua dilakukan dengan dua tujuan, yaitu apabila kita ingin memproduksi petarung dan untuk memperbaiki kualitas darah yang sudah ada (menambahkan elemen baru atau "additive characteristics" yg sudah ada).

4. Aplikasi teori population genetics menuntut adanya sistem seleksi yang ekstra ketat. Beberapa waktu yang lalu ada pendapat yang mengatakan untuk bisa memakai sistem inbreeding, maka kita harus menjadi ahli "membunuh". Istilah ini sebenarnya hanya untuk memberikan tekanan bahwa anakan yang akan melanjutkan generasi indukan harus diseleksi secara ketat. Pilihlah anak betina yang mirip bapaknya dan anak jantan yang mirip ibunya. Yang perlu dipahami, pengertian "mirip" disini bukan mirip secara fisik, tapi yang lebih penting adalah karakternya (tetapi kalau secara fisik juga mirip tidak masalah). Di sini lagi-lagi diperlukan "feeling" dan keahlian dalam melakukan seleksi. Agar kita bisa melakukan seleksi, misalnya untuk mengambil 1 pasang pada setiap generasi kita tetaskan 3 X, lalu dari situ dilakukan seleksi untuk menentukan 1 pasang yang akan melanjutkan karakter moyangnya (ancestors). Semakin banyak pilihan yang akan diseleksi, akan semakin bagus.

5. Hasil inbreeding selalu ditandai dengan ciri-ciri kehilangan vitalitas (ayam hasil inbreeding menunjukkan gejala penurunan vitalitas). Prof. Anker bahkan menegaskan bahwa semakin besar hilangnya vitalitas pada ayam hasil in-breeding berarti effek dari inbreeding itu lebih bagus.

Ayam hasil inbreeding tidak cocok untuk tarung, tapi hanya cocok untuk menjadi indukan (orang eropa biasanya beli burung bukan untuk dimainkan tapi untuk breeding). Hasil turunannya nanti yang akan dimainkan.

Vitalitas yang hilang itu akan didapatkan kembali apabila hasil inbreeding disilang dengan ayam lain. Inbreeding dimaksudkan untuk membangun sifat-sifat yang akan selalu diturunkan kepada turunannya (offspring), sedangkan cross-breeding untuk menambah sifat-sifat/ karakter yang sudah ada seperti menambah vitalitas, karakter dan kekuatan.

Dengan in-breeding kita bisa memperbaiki kualitas yang jelek. In-breeding adalah pengurangan variasi atau keragaman. Semakin banyak/sering suatu darah tertentu (strain) dilakukan in-breed maka turunannya akan mirip satu sama lain.

Menjodohkan bapak dan anaknya yang betina  atau ibu dengan anaknya yang jantan lebih efektif hasilnya dari pada menjodohkan kakak dengan adiknya (meskipun sama-sama in-breeding tapi sepertinya dampaknya berbeda). Ini karena ada gen yang dimiliki anak, tetapi tidak dimiliki bapak (kasus bapak dengan anak betina). Begitu juga sebaliknya antara ibu dengan anak jantan, ada gen dari pejantan pada anak yang tidak dimiliki ibu.

Bila tujuan kita ingin mendapatkan gen-gen yang lebih dominan dari bapak, maka gunakan bapak vs anak betina. Kalau ingin dominan dari ibu, maka gunakan ibu vs anak jantan.

Lalu siapakah yang sudah membuktikan teknik pemulian ternak ayam aduan dan berhasil melahirkan petarung unggul? Saya akan memberi contoh Mas Ary selaku admin di papaji.forumotion.com, berikut ulasannya.

Komentar salah pelanggan Mas Ary:

“Melihat ayam-ayam Mas Ary, saya mulai percaya bahwa metode inbreed mampu menghasilkan ayam aduan yang berkualitas. Tetapi ada satu pertanyaan, dari mana ayam-ayam Mas Ary mendapatkan pukulan yang bagus, sementara setau saya, mas ary breeding ayam-ayam teknik.

Datang saja ke Jl H. Niming No. 61 Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Dan saya sdh membuktikan kualitas ternakannya dengan membawa ayam terbaik saya ke sana. Sampai disana, ternyata ayam saya cuma jadi untulan.

Karena faktanya selain teknik yang luar biasa bagus, ayam-ayam teknik Mas Ary memiliki pukul yang tidak kalah sakit dengan ayam-ayam pukul atau ayam jalu. Apakah breeding Mas Ari menggunakan crosbreed juga, atau hanya inbreed saja? Jika hanya inbreed, lalu dari mana pukul sakit itu didaptkan?


Jawaban Mas Ari:

Pastinya, inbreed dan cross breed saya gunakan semua mas... Saya berusaha menciptakan 'Basic blood' dalam ternakan saya. Yaitu ayam-ayam yang memiliki keunggulan dari sisi teknik. Terutama babonnya. 'Basic Blood' babon ini didapat dari hasil ternak sendiri. Bukan hasil membeli dari luar. Dengan inbreed, saya bisa membuat 'teknik' menjadi sifat yang dominan. Kalau sudah dominan, saya bisa dangan mudah mencari pejantan dari luar yang memiliki pukulan yang bagus (untuk cross breed).

Tapi tentu harus diperhatikan, pejantan untuk cross breed ini harus juga memiliki teknik yang setipe dengan babon saya. Dengan begitu, anak-anaknya akan tetap berteknik bagus, dan punya kelebihan pada pukulnya.

Hasil dari cross breed, dipilih satu ekor anak jantan dan betina yang paling bagus. Sepasang anak inilah yang kembali menjadi 'modal' untuk proses inbreed berikutnya. Demikian seterusnya.

Jadi, secara sederhana bisa disimpulkan, bahwa fokus ternakan saya adalah menciptakan babon yang sesuai dengan keinginan saya (dalam hal ini teknik bagus). Kenapa harus babon? Karena dengan menciptakan sendiri babon hasil ternak, kita bisa dengan mudah mengetahui apa kelebihan dan kekurangan babon tersebut. Selanjutnya, bisa kita cari pejantan yang sekiranya cocok untuk dijodohkan.


Mau lihat hasil ternakannya? Tonton video berikut:


Baca juga:
TIPS MERAWAT AYAM ADUAN JADI AGRESIF 
Tips Memperpanjang Nafas Ayam Aduan 
 
Kembali Pada Peternaknya
Jadi, metode ini harus dipandang hanya sebagai sebuah alat panduan yang secara teoritis sudah terbukti.

Selanjutnya tinggal tergantung peternaknya, bagaimana 'memainkan' alat tersebut supaya bisa berjalan dengan baik. Untuk itu, juga dibutuhkan feeling, sedikit modifikasi, proses seleksi dan proses pengujian yang ketat dan konsisten.

Ibarat sebuah gitar, bunyi yang dihasilkan tentu tergantung siapa pemainnya. Begitu juga metode ini, siapa yang lebih teliti, jeli, cermat dan mahir, tentu lebih berpeluang untuk berhasil melahirkan anakan unggulan sebagai petarung.

Nah, kalo begini kan jadi lebih bisa dipercaya. Maksud saya bahwa artikel yang ditulis di atas megenai methode inbreed dan crosbreed bukan sekedar teori dari barat, tetapi memang sudah dicoba dan terbukti berhasil. Dengan demikian secara empiris dapat dipertanggungjawabkan. Saya berharap Mas Ary mau menularkan ilmu breedingnya kepada peternak pemula, tidak dipendam sendiri untuk kesuksesan pribadi. Harapan ini juga ditujukan kepada para breeder senior lainnya yang sudah terbukti sukses dalam breeding dengan berbagai methode. 

Semoga dengan demikian khasanah pemuliaan ternak, khususnya ayam laga indonesia dapat terus maju dan berkembang tidak kalah oleh breeder-breeder dari Thailand.

Thanks for: papaji.forumotion.com

Previous
Next Post »

1 komentar:

Click here for komentar
Unknown
admin
27 July 2017 at 06:15 ×

Sya ingin bertanya. Sebenarnya hasil anakan inbred. Line breed. Cros breed. Si jagonya itu bagus tidak buat tarung???

Congrats bro Unknown you got PERTAMAX...! hehehehe...
Reply
avatar

Mari berdiskusi di kotak komentar, terimakasih. Salam penghobi ayam. ConversionConversion EmoticonEmoticon